| home | ask me | archive | Themes |
(wed, March 28 ‘12) such a tiring day, but made me so motivated to be a better person with better values for tomorrow. Banyak target, banyak keinginan, banyak kebutuhan, banyak keluhan, banyak motivasi, all in one. Suka pusing sendiri. Tapi enjoy aja deh.
Minggu-minggu ini gue banyak belajar dari kegagalan dan kelalaian di masa lampau, dimana itu amat merugikan dan membuat gue jadi tersiksa sendiri. So, gue lagi membangun suatu perubahan di dalam aturan hidup gue sekarang ini. Gue juga ngga tau sih, perubahan ini mulainya kapan (atau jangan-jangan sampai sekarang malah belom berubah?!).
Well, masih berlarut-larut sama kejadian “believe it or not” itu… Ahh, it was full of drama, bro! Nggak nyangka, belum pernah gue menggemari seorang idol dan akhirnya kesampaian buat ketemu langsung…. walau yang ketemu ayah gue sih. Tapi ayah gue kan salah satu manusia yang terdekat dengan gue karena satu rumah, satu kasur malahan (belum beli kasur lagi, so please if you want to donate xD). Rio… Dan pada saat ayah gue akan meminta tanda-tangannya, ayah gue satu meja sama keluarganya doi yang lagi pada makan di sebuah restoran. Ditawarin makan bareng lagi. Tapi, ayah gue orang yang pemalu dan sepertinya sangat ngabdi banget, jadi hanya bisa menunggu doi sampai selesai makan. Satu meja, sebelahan! Nggak bisa bayangin kalau gue ada di posisi ayah gue… Bisa-bisa gue pingsan di tempat gara-gara NGGAK NGGAK NGGAK KUAT !@#%$%$e%$&^%&^%$#^^& hihihihihihi :P.
Yah… Gue seneng sih udah bisa dapetin tanda tangannya. Tapi ada satu hal yang pengen banget bisa gue dapetin. Kapan ya gue yang ketemu sama dia? Jangan ayah gue lagi wkwkwk. Gue selalu merasa kalau seandainya gue berhasil ketemu sama dia, itu bisa aja ber-arti pertemuan pertama dan terakhir. Bro, you know him so well lah, bukan orang biasa (lalu orang apa?), bukan anak remaja yang seperti gue… Dan gue takut itu akan sedikit menyakitkan. Hua :P. Jadi, sekarang ini gue beranggapan bahwa mungkin sekarang gue nggak ketemu dia, tapi di masa depan gue akan ketemu, malah bakalan sangat terjangkau oleh dia, bahkan…. Aaah, okay enough, itu cuma Tuhan yang tau.
Terkadang bermimpi bisa salah, tapi bermimpi juga bisa jadi acuan. Bingung, serba salah ya kalau mimpi. Ketinggian takut jatuh, nggak mimpi malah kismin. Ter-la-lu.
Tapi selain muka gantengnya doi, gue juga naksir lho sama semangatnya yang nggak pernah padam. Muka dan semangatnya itu pribumi banget. Senyumnya penuh optimisme sama kharisma nya.
Gue kagum sama doi, karena setiap target yang doi bikin itu nggak pernah muluk-muluk, tapi doi akhirnya memberikan hasil yang jauh dari muluk. Doi juga kelihatannya talkless, tapi do more.
Pokoknya, he’s a different one. Ganteng, tapi nggak pernah merasa kalau dirinya itu ganteng. Low profile fitu lho. Nggak neko-neko. Sederhana. Apik lagi. Tapi mengenai tulisannya, gue nggak ngefans… kwkwkwkwk yasudah lah…
Dan menurut kata-kata ibu gue (yang gue lihat dari matanya, emang bisa?), doi itu ber-masa depan cerah. Nggak perlu diraguin lagi. Meanwhile, gue terngiang2 sama ceramah ibu gue beberapa tahun lalu, yang menyimpulkan bahwa ibu gue lebih suka kalau gue menyukai lawan jenis yang umurnya sedikit lebih tua dari gue. Mungkin ibu gue berpikir bahwa dengan gue memiliki pacar yang lebih dewasa, gue akan ikut terbawa menjadi pribadi yang dewasa dan, of course mandiri.
Dan, sepertinya selang waktu 4 tahun adalah hal yang lazim, deh. AMIN!
(Posting ini adalah sekaligus sebagai doa malam hari yang rutin saya laksanakan setiap malam dan selain itu semoga ujian yang akan saya hadapi besok bisa berjalan dengan lancar)
Percaya ngga percaya? Gue sendiri sampai sekarang juga nggak nyangka nasib gue memang bisa sebaik hari ini (Wed, March 21st ‘12)!
Berawal dari pada pagi hari ini gue sangat suntuk, badmood maksimal, unek-unek udah luber di ubun-ubun gara-gara banyak properti yang belum gue siapin untuk praktek di sekolah pada pagi hari itu. Hampir mau nangis (sepertinya udah nangis deh di kamar mandi), gue kayak setengah hati untuk berangkat sekolah. Nggak ada gairah banget.
Sampai di sekolah, gue sedikit lega karena penilaian senam pagi itu di-pending dan dijadiin tugas untuk hari esok dan sementara saat itu juga gue belum hafal beberapa gerakannya.
Lalu, settingan ‘suram’ melanda pas guru Bahasa Indonesia masuk dan membawa tugas untuk semua siswa. Let it be aja lah = bodo amat. yang penting, score gue nambah dan nilai gue tercukupi. Tapi tetep aja suram. Tau nggak? Gue sempet nyaksiin salah seorang temen gue berantem cuma gara-gara tugas kelompok yang - gue males ngasih tau masalahnya - complicated pokoknya, dan mereka berisik banget!
Jam suram itu berakhir juga. Tapi ternyata bukan agenda terakhir. Dalam hati bilang “damn”.
Terakhir adalah gue praktik memasak: bikin hidangan lauk hewani dan nabati, bikin sayur dan bikin dessert. It made me so dizzy. Gue jalani dengan penuh suka cita dan harapan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Singkat cerita, harapan itu terjadi. Syukur banget. Keringet udah banjir di seluruh tubuh dan siang itu lagi panas banget.
Tiba-tiba saat gue check handphone gue yang telah gue abaikan selama kurang lebih 3 jam karena ada jam praktik, there was something that made me very surprised. ANJRIT TAU GAK LOOOOOOO.
Dear Rio Haryanto. Gue dapet tanda tangan dan fotonya yang dititip Ayah gue saat lagi kerja. Ayah adalah seorang karyawan di satu perusahaan penerbangan di bandara, dan fortunately dia lagi nge-handle keberangkatannya Rio.
Latar belakangnya adalah, sekitar jam 2 siang itu gue nge-text ayah gue dan ngabarin kalau ternyata Rio berangkat ke KL sore ini: intinya berarti saat itu dia belum berangkat. Dengan modal niat IIB (iseng2 berhadiah), gue minta tolong ayah biar mastiin apakah bener Rio berangkat sore ini, atau malah udah dari siang.Text gue ke ayah gue adalah memakai pulsa terakhir. Bro, bayangin, terakhir. Dan setelah text yang kedua, pulsa gue n’tek.
Dan ternyata, ayah gue menemukan berkasnya. Rio on-board! < cerita ayah gue agak nafsu gitu :p. Dan lo tau bro, kalau saat itu ayah gue ngaret 10 menit, harapan gue bisa dapet tanda-tangan Rio pupus. Bro lo tau, ayah gue ternyata ketemu Rio pas doi udah mau boarding. Itu cerita ayah gue. Dan sebelum tau tentang itu, gue hanya harap-harap kecil aja bisa dapetin rejeki itu. Ternyata memang rejeki gue. Di menit terakhir…. Subhanallah.Ayah gue dapet 2 kali jepretan berfoto bareng dia, dan sempet2nya minta sign nya dia untuk gue, anaknya yang sedang berada di sekolah dan sedang menjalani ujian praktik.
Ayah gue ketemu Rio saat Rio dan beberapa orang terdekatnya lagi makan siang karena kelaperan, dan ayah gue merhatiin lo: Rio lagi makan rawon sama kerupuk udang.
Epilognya agak sedih. Gue disangka anak SD sama Rio. Padahal kan gue sudah SMP. But up to you lah Rio. Ngantuk nih.
Value: ternyata hari ini capek gue terbayarkan dengan suatu kesenangan. Something small, but precious.
Dia itu yang suka megang stir mobil. Kalau bawa mobil, pasti nggak pernah slow. Selalu ngebut untuk ngejar garis finish. Kalau gue ngeliat mobilnya aja udah melting, gimana ngeliat yang nyetirnya. Dia, sih, tergolong anak muda - walaupun lebih tua daripada gue. Yah, kurang-lebih gue lebih muda 3 tahun dari dia. Masih nanya dia ganteng/nggak?! Oh my, he’s almost perfect! Menurut cerita-cerita dan tulisan-tulisan dari para fansnya, dia adalah cowok yang gemar sosialisasi. Sepertinya itu juga yang mungkin membuat gue harus menyatakan kalau dia itu idola yang ”low profile abis”. Saat gue nanya teman-teman gue, nggak banyak yang tau mengenai dia, lho. Dia sendiri juga nggak pernah dapet gosip/kabar yang sampai-sampai gempar en bersensasi. Dia itu beda banget sama cowok-cowok ganteng yang famous. Dia nggak famous. Dia juga jarang ada di tanah air. Tapi kerjaannya dia itu ngebawa nama tanah air ke seluruh dunia. Dia itu terkenal di mancanegara.
Gue seneng banget sama dia. Hah. Bentar, ya. Lagi flying, nih.
Dear, Rio Haryanto.
75 days toward national exam. Hari Senin besok gue bakalan menghadapi try out 1 - soal-soal dari provinsi. Entahlah, mencoba untuk tidak stres dan terlalu memikirkan. Tapi sekarang gue benar-benar sedang menikmati ‘kesendirian’ gue. Being single is absolutely FUN!
Menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah, mendengarkan musik tanpa beban pikiran apa-apa, tanpa ada tanggungan menyayangi orang selain keluarga, waw. It’s gonna be cool.
Then, gue bener-bener termotivasi oleh apapun yang menurut gue bisa bangkit-in semangat. Kayak lagu-nya “Marry You”-Bruno Mars-, semua playlist di handphone gue, mimpi-mimpi gue. Hahhhhhhhhh, how free I am :-D
Liburan kelas 9 semester 1 yang (menurut gue) lumayan panjang dan - sedikit lebih tragis dari libur-libur yang lain. GUE MAKAN TERUS. Sementara kemarin-marin gue udah janji sama diri gue sendiri kalau liburan semster ini harus rajin olahraga lari pagi dan hasilnya? Badan gue bukannya tambah kurus, kek, atau nambah tinggi - gue malah kelihatan seperti BINARAGAWATI.
Apa ini karena gue selalu jalan kaki tiap pulang sekolah, dan membuat betis gue membesar seperti talas dan ‘kenceng’ banget!? -_- kemudian, apa karena gue rajin push-up - alhasil lengan atas gue membesar kayak kebanyakan binaragawan.
Gak enak banget punya badan yang NGGAK KURUS dan NGGAK GEMUK, menonjol!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kan gak jelas abis. Apalagi gue males banget kalau udah pakai seragam sekolah - keliatan gede banget, terutama - sepertinya gaya jalan gue ‘belum sembuh’, hehe. Dan gue kesseeel!!! >:o
- Math: 9,2
- Indo: 8,5
- Science: nggak tau (tapi gue nggak remedial) (include Biology n Physics)
- English: nggak tau (nggak dikabarin remedial)
- Social: nggak tau (nggak dikabarin remedial) (include Geo, Eco n Socio)
- Seni Budaya: 6,5 (-_-) (music n arts)
- Civic: nggak tau (tapi gue nggak remedial)
- Bahasa Sunda: nggak tau (nggak dikabarin remedial)
- Tata boga: nggak tau (nggak ada kabar)
- Religion: nggak tau (nggak ada kabar)
Lagi mulai berusaha untuk melupakan semuanya tentang seseorang itu (baca esai di “Google saja sulit mencari dia…”). Mungkin selama ini gue tidak berguna bagi dia - dan tidak berguna bagi diri gue sendiri yang terus-terusan mikirin itu orang. Entahlah, apa yang membuat gue harus melupakan dia. Gue rasa, dia sekarang kayaknya lagi labil… Dan gue toh masih punya hari yang banyak dan gue bakalan ketemu sama orang-orang baru. Selain dia.
Tidak harus dia, kan?
Tapi kenapa gue masih tetep menunggu?
Hfffffff. Sebetulnya niat gue juga bukan bikin dia terlalu berharap (lagipula sepertinya gue doang yang terlalu pede sampe-sampe bisa nulis statement kayak gitu).
Gue sangat tolol sekali. Mengapa perasaan ini ada lagi saat orang itu mulai menampakkan sikap (yang menurut gue) jeleknya… Kebiasaan buruknya… He can’t do what he said, thought. Omong kosong maksudnya.
DIA LABIL DAN GUE MENYUKAI DIA? HARUSNYA SEKARANG GUE BILANG “IYYYUUUUH”!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


